Friday, December 5, 2008

Cepat Ambil Keputusan!

Sebagai seorang penggemar berat sepakbola tentu pertandingan sepakbola adalah hal yang sayang untuk ditinggalkan. Termasuk juga pertandingan sepakbola yang menampilkan klub-klub (katanya) profesional Indonesia. Memang banyak orang mengatakan kalau sia-sia saja nonton pertandingan sepakbola lokal, hasilnya pasti mengecewakan.
Tapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Kompetisi sepakbola Indonesia sudah (hampir) bisa dinikmati. Setelah berganti nama menjadi Liga Super Indonesia, tampaknya memang sedikit ada perubahan dalam hal bermain. Meskipun memang masih banyak menjadi catatan. Tulisan ini tidak akan mengulas bagaimana PSSI atau BLI mengatur jalannya Liga, karena sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi, manajemen liga masih banyak kekurangan.

Tapi marilah kita melihat dari dekat bagaimana tim-tim sepakbola Indonesia itu bermain. Sedikit perubahan permainan yang saya tadi katakan diawal salah satunya dipengaruhi oleh kondisi lapangan yang sudah agak rata. Sehingga laju bola bisa lebih terkontrol. Bandingkan dengan kondisi lapangan 1 atau 2 tahun yang lalu. Bahkan bisa dikatakan kalau kondisi sebagian besar lapangan bisa dibilang setara dengan sawah. Becek, tidak rata dan keras.

Lapangan dalam kondisi yang lebih rata memungkinkan laju bola lebih mulus, sehingga umpan-umpan pendek lebih bisa dimaksimalkan. Beberapa tim yang menerapkan umpan-umpan pendek dalam pola permainannya antara lain Pelita Jaya, Persipura, Persiwa. Mereka tampak menikmati bermain dengan gaya umpan-umpan pendek yang cepat. Hasilnya, Persipura dan Persiwa kini bertengger dipuncak klasemen, sedangkan Pelita yang dihuni para pemain muda relatif naik turun. Tapi paling tidak, permainan Pelita sedikit menghibur.

Pengambilan Keputusan

Diluar sedikit perubahan di atas, kualitas permainan sepakbola Indonesia masih rata-rata bawah. Terlalu berlama-lama dengan bola, tidak segera membuka ruang, tidak segera memberi umpan, salah passing, crossing yang jelek, serta kebrutalan pemain dalam melakukan tekel masih mewarnai pertandingan sepakbola di Liga Super Indonesia.

Catatan dalam tulisan ini akan dititikberatkan pada konteks pengambilan keputusan dari para pemain. Pengambilan keputusan (decision making) adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh para pemain. Bagaimanapun juga, bermain sepakbola pada prinsipnya adalah memecahkan masalah karena ada tekanan dari lawan untuk mencetak gol.

Pengambilan keputusan salah satunya dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan seorang pemain. Selain itu, faktor yang menentukan kecepatan pengambilan keputusan adalah proses otomatisasi yang dibentuk dalam proses latihan sehari-hari. Bisa dikatakan, bermain sepakbola adalah sebuah aktivitas setengah refleks hasil dari pembiasaan. Dalam teori psikologi, keterampilan bermain sepakbola adalah hasil dari proses belajar yang akhirnya menciptakan kebiasaan.

Dalam permainan sepakbola, pemain yang dengan cepat mengambil keputusan dan benar, akan menjamin aliran bola yang cantik dan cenderung akan menyulitkan lawan. Contoh kasus adalah yang dilakukan oleh para pemain Manchester United maupun Arsenal. Mereka begitu cepat mengalirkan bola. Demikian juga pemain yang bergerak tanpa bola, mereka begitu cepat mencari ruang kosong. Seolah-olah semuanya sudah otomatis. Ya, bermain sepakbola sebenarnya adalah otomatisasi gerak.

Dalam melatihkan otomatisasi gerak ini, para pelatih perlu untuk memahami prinsip-prinsip psikologi belajar dan modifikasi perilaku. Prinsip dasar dalam psikologi belajar adalah dengan memunculkan penguat untuk perilaku-perilaku yang ingin dimunculkan. Prinsip ini mengacu pada teori operant conditioning yang dikemukakan oleh Skinner.

Secara sederhana, perilaku (dalam hal ini eksekusi teknis sepakbola) yang benar harus diperkuat dengan memberikan semacam reward. Reward atau penghargaan pun harus diberikan secara langsung. Hal ini untuk menunjukkan secara spesifik perilaku mana yang benar. Menurut banyak penelitian, perilaku yang diberi reward ini mempunyai kecenderungan untuk diulangi lagi.

Contoh kasus adalah pada saat para pemain berlatih passing. Jika seorang pemain melakukan passing dengan benar, maka segeralah diberi reward. Tentu saja reward disini tidak harus berupa barang yang secara material berharga mahal. Tapi reward bisa berupa pujian atau sanjungan. Syaratnya adalah diberikan secara langsung dan spesifik berkaitan dengan gerakan atau perilaku yang dituju. Jangan ditunda, karena sudah tidak akan banyak berefek. Jangan juga terlalu general karena tidak akan banyak mengena.

Latih dalam pertandingan

Prinsip belajar dalam sepakbola harus dikenalkan sejak usia dini. Pelatih harus mulai membentuk pemain yang mempunyai teknik dan keterampilan yang benar. Cara menendang, posisi tubuh, penggunaan permukaan kaki,mengontrol bola, mengambil posisi dan sebagainya. Ingat prinsip reward dan punishment harus diterapkan. Pelatih harus “cerewet” dalam melatihkan gerakan-gerakan baru tersebut.

Untuk mengurangi kebiasaan pemain melakukan gerakan yang salah, para pelatih bisa menerapkan prinsip mengurangi reward. Ini adalah semacam memberi hukuman dengan tidak menghukum tapi mengurangi “hadiah” yang diberikan. Logikanya, seseorang akan senang ketika menerima hadiah, sebaliknya, tidak akan senang jika hadiah yang seharusnya mereka peroleh itu diambil. Nah, untuk itulah prinsip itu digunakan.

Syarat lain adalah seorang pelatih harus membuat ukuran yang jelas tentang benar atau tidaknya sebuah gerakan dilakukan. Untuk itu, sebelum memulai latihan, pelatih harus membuat program yang terencana, sehingga kemajuan pemain bisa dijaga. Pelatih juga harus menguasai teknik-teknik tersebut dengan baik. Kursus, belajar dari buku dan belajar dari pelatih-pelatih yang lebih mapan akan membantu.

Setelah dalam proses latihan bisa berjalan dengan benar, pengambilan keputusan harus dimatangkan dalam sebuah proses latihan, baik dalam bentuk small sided games, maupun dalam kompetisi. Ini penting untuk menguji sejauh mana teknik tersebut bisa diadaptasi dan akhirnya diterapkan dalam tekanan yang nyata. Guntur

No comments: