Showing posts with label Kompetisi. Show all posts
Showing posts with label Kompetisi. Show all posts

Thursday, August 6, 2009

Berkompetisilah dengan Sehat!


Miris, membaca berita di suratkabar perihal ditemukannya fakta bahwa ada 33 atlet yang bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Daerah Istimewa Yogyakarta berasal dari luar daerah. Betapa tidak, ajang kompetisi yang seharusnya menjadi arena untuk mencari bibit dan mematangkan potensi lokal, malah menjadi ajang gengsi kelas teri para birokrat olahraga di daerah. Lalu, kapan bibit-bibit unggul daerah bisa tersemai?

Kompetisi terbukti membawa dampak yang positif terhadap perkembangan kualitas seorang atlet. Hal ini disebabkan karena sebuah kompetisi menuntut semua penggunaan semua kecakapan berolahraga dari seorang atlet. Kecakapan teknis dan fisik jelas utama karena dengan berkompetisi, para atlet bertemu dengan lawan dan atmosfer yang harus dikalahkan. Semua keterampilan dan kecakapan yang dilatihkan akan bisa terlihat secara objektif ketika mereka berada dalam situasi yang kompetitif. Dalam proses latihan, seringkali kualitas para atlet tampak menonjol, tapi begitu bertemu dengan lawan sesungguhnya, semua keterampilan yang ada menjadi hilang begitu saja.

Ajang kompetisi lokal sejenis Porprov atau kejurnas seharusnya menjadi sebuah batu loncatan menuju prestasi yang lebih membanggakan ditingkat regional atau bahkan di tingkat internasional. Ajang kompetisi lokal harus memberikan masukan tidak hanya kepada para atlet untuk mengukur kemampuan dirinya, tapi juga kepada para pelatih tentang sejauh mana metode kepelatihannya efektif. Informasi-informasi tersebut akan sangat berharga untuk peningkatan kualitas atlet di kemudian hari.

Selain aspek teknis dan fisik, kompetisi juga mampu meningkatkan kualitas mental bertanding para atlet. Dengan adanya lawan, para atlet harus mampu menguasai diri agar tidak grogi, cemas atau takut. Ketakutan, kecemasan dan perasaan khawatir akan membuat semua kecakapan yang dimiliki sirna seketika. Dengan kompetisi yang rutin, para pemain akan mampu mengukur sejauh mana tingkat kecemasan yang mereka miliki serta mampu menemukan cara serta metode untuk mengatasinya.

Suporter, baik yang mendukung dirinya maupun lawan, juga menghadirkan atmosfer yang menekan bagi para atlet. Dengan tekanan-tekanan tersebut, atlet diajarkan untuk bisa tenang dan tetap fokus menghadapi tantangan yang di depannya. Sekali fokus hilang, maka musuh akan dengan mudah mengalahkan. Belajar untuk fokus tidak bisa dilakukan hanya dengan kondisi yang tenang, tapi fokus harus diajarkan ketika para atlet sedang berada dalam tekanan yang berat, karena memang itulah hakikat pertandingan sesungguhnya.

Level motivasi akan terjaga ketika seorang atlet tahu bahwa ada harapan yang bisa mereka raih. Dengan kompetisi, atlet akan diiming-imingi sesuatu yang menantang, yang terutama adalah sebuah kemenangan. Dengan iming-iming seperti ini, atlet akan belajar untuk memacu dirinya agar menjadi yang terbaik. Dengan motivasi untuk menjadi yang lebih baik atau yang terbaik, maka atlet akan mampu mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Berbeda dengan iming-iming yang berbentuk materi, ketika seorang atlet sudah merasa cukup dengan materi yang dia miliki, maka bukan tidak mungkin, atlet tersebut akan berhenti dan itu artinya tidak ada lagi prestasi yang berhasil dia raih. Ironisnya, inilah yang banyak terjadi di dunia olahraga Indonesia.

Media Evaluasi
Seperti disinggung di atas, kompetisi (khususnya tingkat nasional atau regional) seharusnya menjadi ajang untuk berevaluasi. Ini terutama bagi para pelatih, pembina dan tentu saja para atlet. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh dalam setiap aspek. Aspek teknis, pelatih harus mampu memotret dan mencatat setiap kelemahan dan kekurangmatangan para atlet ketika bertanding. Selanjutnya, kekurangan-kekurangan tersebut harus segera dicari solusinya dalam proses latihan. Harapannya, pada saat menjalani kompetisi di level yang lebih tinggi, kekurangan-kekurangan tersebut bisa dihilangkan.

Aspek fisik juga tidak kalah pentingnya. Untuk sebagian besar cabang olahraga, fisik merupakan elemen yang sangat menentukan. Meskipun unggul penguasaan teknik, tapi ketika fisik tidak menunjang untuk menjalani pertandingan, maka hasilnya pun akan bisa diprediksi. Latihan fisik harus benar-benar mampu memberikan landasan bagi munculnya kualitas teknik yang prima. Dewasa ini sudah banyak literatur dalam hal latihan fisik. Pelatih Indonesia harusnya mulai melirik penggunaan literatur dan penelitian-penelitian dalam bidang olahraga agar fisik pemain betul-betul siap. Kenyataannya, para pelatih fisik masih banyak yang menggunakan cara-cara lama dalam menggenjot fisik pemain. Tidak jarang latihan-latihan pola lama ini justru tidak efektif.

Dalam segi mental, kompetisi yang baik akan mampu mendongkrak kualitas mental atlet. Pelatih dan pembina harus benar-benar waspada agar mental atlet tidak hancur setelah berkompetisi di daerah. Dengan beban yang terlalu tinggi, tidak jarang para pemain akan mengalami burn out yang akhirnya menurunkan semangat, motivasi, serta daya juang atlet selanjutnya. Penyusunan sasaran dan tujuan yang benar diselingi dengan pemotivasian atlet akan mendorong mereka ke level yang lebih tinggi. Pelatih harus mengevaluasi aspek mental ini juga. Evaluasi yang tepat akan menghasilkan penanganan yang tepat. Para pelatih Indonesia harus mulai membuka diri untuk bekerjasama dengan para profesional di bidang ilmu psikologi olahraga untuk mendapatkan masukan yang tepat mengatasi kekurangan para atlet di dalam aspek mental ini.

Efek langsung dari penanganan mental yang tepat akan membuat suasana latihan menjadi lebih menyenangkan. Motivasi atlet tidak hanya diarahkan kepada kompetisi, tapi juga harus diberikan pada proses latihan. Proses latihan yang sehat adalah ketika para pemain mampu menikmati proses latihan tersebut, datang dengan semangat dan pulang dengan rasa penasaran. Itu akan menumbuhkan keinginan yang terus menerus dalam diri atlet untuk selalu datang pada setiap sesi latihan.

Kembali ke kasus penggunaan atlet "ilegal" a la Porprov DIY, sungguh semua elemen yang dibutuhkan bagi atlet untuk berkembang menjadi hilang. Ketika atlet daerah tahu bahwa lawannya adalah atlet-atlet luar daerah (biasanya atlet yang sudah jadi), maka bukan tidak mungkin para atlet daerah tersebut akan merasa rendah diri dan tidak bersemangat ketika bertanding karena tahu bahwa dirinya sudah pasti kalah. Selain itu, para pelatih pun tidak akan mempunyai ukuran yang jelas untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Selain kehilangan motivasi jangka pendek, atlet juga akan merasa tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk berkembang lebih jauh. Jelas ini merugikan karena pengaruhnya akan berimbas pada proses latihan.

Lalu, kapan olahraga Indonesia bisa menjadi alat untuk meraih kembali kejayaan bangsa jika atlet-atlet potensial harus layu sebelum mereka bisa berkembang? Sungguh ironis, di tengah keterpurukan bangsa ini akibat berulangkali di"kerjai" para teroris, masih saja para birokrat olahraga Indonesia berpikir kampungan. Saya pikir, mereka adalah orang-orang yang jauh lebih keji dibandingkan para teroris karena mereka merusak bangsanya sendiri dengan cara yang sangat sistematis...Sayang memang...

Guntur Utomo

Wednesday, December 17, 2008

Membangun Tenis dari Mula..

Angelique Wijaya hadir kembali di dunia Tenis Indonesia. Mantan Juara Wimbledon Junior ini kembali menunjukkan komitmennya di dunia Tenis Indonesia. Melalui Sportama Event Organizer miliknya, Angie, sapaan akrabnya, berusaha untuk mencetak bibit-bibit tenis muda Indonesia.

Angie memang sudah jarang bertanding lagi. Juara Commonwealth di Bali beberapa tahun lalu ini kembali ke jagad tenis dengan kendaraan Sportama, sebuah perusahaan event organizer yang spesifik mengurusi tenis. Beberapa waktu lalu, Angie sukses menggelar turnamen tenis di Solo. Menarik untuk melihat komitmennya memunculkan atlet-atlet berbakat dari dunia tenis ini.

Dalam waktu dekat, Angie akan menggelar seri turnamen tenis di Indonesia. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, 5 buah. Tentu saja ini adalah angin segar buat para petenis Indonesia yang belakangan tampaknya kesulitan untuk mencari pembuktian dari proses latihan yang dijalani setiap hari.

Diluar naluri bisnis, seri turnamen ini tentu saja merupakan ajang yang ideal untuk mengasah talenta-talenta muda tenis Indonesia. Dengan semakin banyak turnamen kompetitif yang diikuti, petenis akan semakin matang. Efeknya, Indonesia akan muncul bakat-bakat baru tenis yang bisa menggantikan Yayuk Basuki maupun Angie sendiri.

Bidikan untuk menggelar kompetisi sebanyak mungkin ini merupakan langkah yang sangat bagus. Kompetisi, selain menjadi ajang pembuktian teknis para pemain, juga bisa mendidik para petenis agar lebih tangguh menghadapi tekanan pertandingan. Faktor Psikologis akan sangat terasah ketika turun di ajang yang kompetitif secara rutin.

Motivasi para petenis muda pun akan semakin tinggi karena mereka akan mempunyai batu loncatan di level nasional dalam meraih prestasi. Selama ini, dengan keringnya kompetisi (ini juga dialami cabang lain), para pemain muda tampak gamang ketika harus menggantungkan cita-cita setinggi langit. Bagaimana tidak, untuk bisa ikut kompetisi saja, mereka harus ke luar negeri lantaran di dalam negeri tidak tersedia ajang yang kompetitif. Tentu saja hal ini tidak ideal saat berusaha mencetak pemain tenis sebanyak-banyaknya. Dengan kompetisi rutin di dalam negeri, hitung-hitungan biaya bagi petenis lokal akan semakin mudah.

Selain itu, pemain juga akan terbiasa menghadapi tekanan. Pertandingan tentu saja menciptakan tekanan yang tidak ringan buat seorang atlet. Ditambah dengan embel-embel pertandingan penting, maka beban dipundak para pemain akan semakin tinggi. Tentu saja, harapan para pemain tentu saja mencapai hasil terbaik, untuk itu maka mereka harus bisa mengalahkan lawan-lawannya. Tidak jarang, saking tegangnya menghadapi tekanan, maka pemain akan merasa cemas dan akhirnya kemampuan teknisnya tidak akan keluar.

Dengan kompetisi teratur, para pemain akan belajar bagaimana mengatasi tekanan dan kecemasan sebelum bertanding. Pertandingan yang relatif sering akan membuat para pemain lebih tenang dan waspada dalam bermain. Para pemain juga akan lebih mudah untuk menetapkan sasaran sebagai batu loncatan untuk sasaran yang lebih besar.

Selain itu, kompetisi yang teratur juga akan memudahkan para pelatih mengevaluasi kemampuan para atletnya. Kemampuan optimal atlet hanya akan bisa diukur ketika mereka bertanding dalam level kompetisi yang tinggi. Latihan tidaklah cukup untuk mengevaluasi pencapaian seorang atlet terutama dalam hal teknis.

Baiklah, kita tunggu komitmen Angelique wijaya berikutnya untuk mencetak generasi baru pengganti Yayuk Basuki atau dirinya untuk mengharumkan nama Indonesia dalam dunia Tenis. Semoga apa yang dia kerjakan bisa membuahkan hasil yang maksimal.

Guntur Utomo