Thursday, June 28, 2007

Masa Depan Psikologi Olahraga

Psikologi olahraga, sebagai salah satu cabang dan bidang kajian baru dalam Ilmu Psikologi, menghadapi masa depan yang cukup cerah. Hal ini berkaitan dengan tuntutan olahraga yang semakin tinggi dengan berubah menjadi industri yang melibatkan nominal yang luar biasa besar. selain itu, kebutuhan untuk membangun kesehatan diri sendiri dengan pendekatan kejiwaan memunculkan kesadaran orang untuk berkonsultasi dengan ahli yang memahami kedua bidang.

Seperti disampaikan oleh Schinke,dkk. dari Universitas Laurentian psikologi olahraga akan menemukan jaman dimana industri olahraga sangat bergantung. Perkembangan tersebut meliputi bidang praktis yang tentu saja diikuti dalam bidang akademis seperti penelitian dan pengembangan kurikulum pengajaran. Dalam penelitiannya, Schinke,dkk. Memberikan bukti dari pengakuan beberapa praktisi.

Dari beberapa praktisi tersebut diperoleh data bahwa para atlet profesional berhasil mendapatkan kemajuan yang signifikan setelah bekerja sama dengan para praktisi psikologi olahraga. Contoh kasus, seorang pegolf asal Kanada, Ames, berhasil menembus jajaran pegolf PGA setelah menggunakan jasa psikolog olahraga.

Pengakuan lain didapat dari Nicole Dubuc yang menyebutkan perkembangan psikologi olahraga, terutama di arena olimpiade, sungguh menggembirakan. Dalam lokakarya dan seminar-seminar disebutkan bahwa psikologi olahraga terbukti telah memberi efek positif terhadap kemajuan proses pelatihan fisik dan mental. Kondisi ini dipicu oleh semakin tingginya para pelatih menyadari menyesuaikan antara proses latihan fisik dengan kondisi kepribadian, karakter maupun sifat dari atlet.

Bukti lain jelas bisa dibaca ketika melihat perkembangan olahraga di China. Harus diakui, Negeri Tirai Bambu tersebut sudah menjelma menjadi salah satu kekuatan olahraga terbesar di dunia. Dalam penelitiannya, Andrew Hamilton BSc, MRSC. Berhasil membuktikan bahwa China menggunakan olahraga sebagai salah satu alat untuk “menguasai dunia”. Perkembangan olahraga di China tentu saja didasari oleh kesadaran pemerintah menggerakkan masyarakatnya untuk berolahraga. Proses pembibitan dan pembinaan atlet dilakukan secara massal dan menjadi kebijakan nasional.

Kebijakan peningkatan prestasi ini tentu saja melibatkan segala bidang. Sarana dan prasarana yang mutakhir ditunjang dengan sistem kepelatihan yang modern membuat perkembangan atlet seolah tinggal menunggu waktu. Puncaknya adalah dipilihnya China sebagai tuan rumah perhelatan pesta olahraga terbesar di muka bumi, Olimpiade 2008 Beijing.

Selain sarana dan prasarana, tentu saja ilmu pengetahuan memainkan peran yang strategis. Salah satu cabang ilmu yang berperan, tentu saja, adalah psikologi olahraga. Dengan memahami dengan jelas karakter dan sifat masyarakat China, proses pelatihan akan semakin mudah. Secara tidak langsung, Ilmu Psikologi olahraga telah memainkan peranan penting dalam pembangunan olahraga China.

Sinergi Dua Bidang

Untuk menempatkan psikologi olahraga menjadi sejajar dengan ilmu fisik maupun ilmu kedokteran dalam pembangunan atlet, maka dibutuhkan usaha yang cukup keras. Ada dua hal yang perlu bersinergi dalam rangka mengembangkan teori dan sistem dalam ilmu ini, yaitu bidang praktis dan bidang akademis.

Dalam sisi praktis, para praktisi tentu saja perlu mengembangkan teknik dan cara dalam proses konseling maupun terapi bagi para atlet. Tidak hanya dalam konteks permasalahan behavioral disorders, tapi juga dalam proses pengembangan motivasi. Teknik-teknik terapi saat ini memang sudah cukup mutakhir, namun tentu saja, dalam konteks olahraga, perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Sedang dalam tataran akademis, para peneliti dituntut untuk tetap berkarya menelurkan teori-teori baru dalam rangka peningkatan performance para atlet dalam sudut pandang psikologi.

Kedua hal ini tentu saja tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Para praktisi mempunyai akses ke atlet secara langsung, sehingga seharusnya dengan mudah mengidentifikasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh atlet dan dunia olahraga secara langsung. Hal ini kemudian didukung oleh penelitian-penelitian lanjutan untuk mendapat solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut lebih komprehensif.

Selain itu memang perlu dikembangbiakkan institusi pendidikan yang secara spesifik memberikan pengajaran bagi para calon psikolog olahraga baru. Saat ini, baru sedikit institusi pendidikan yang seara spesifik membuka program-program pendidikan psikologi olahraga.

Di Indonesia, kondisi ini diyakini belum mendapat perhatian yang besar dari para praktisi psikologi. Terbukti belum banyak lembaga yang mempunyai program studi psikologi olahraga yang secara khusus mencetak para psikolog olahraga. Hal ini barangkali dipengaruhi oleh iklim olahraga Indonesia yang belum begitu menjanjikan.

Namun, menurut hemat penulis, kondisi tersebut bisa dimulai dengan mengembangkan bidang keilmuan ini dengan simultan. Dengan pamor ilmu psikologi secara keseluruhan, yang mulai merambah kehidupan bangsa ini, yang mulai meningkat. Maka tidak ada salahnya menempatkan psikologi olahraga dalam salah satu kurikulumnya.

Guntur Utomo

Peneliti muda

Tuesday, May 1, 2007

Ruang Lingkup Psikologi Olahraga

Seiring dengan semakin besarnya industri olahraga, psikologi olahraga memegang peranan yang cukup signifikan. Dalam olahraga prestasi, peran psikolog olahraga dominan dalam mendongkrak prestasi para atlet. Misalnya dalam peningkatan motivasi, menghilangkan kecemasan, stress. Selain itu, peran seperti proses penyembuhan emotional disorders yang kerap di alami oleh para atlet profesional seperti anorexia, penggunaan obat terlarang, agresifitas, persoalan atlet dengan lingkungan keluarga, penonton, fans. Lihat yang sudah dilakukan oleh psikolog yang menangani Adriano, striker Inter Milan, dalam proses pengembalian perfomanya.

Bidang lain yang menjadi wilayah kerja psikologi olahraga adalah dalam konteks pelatihan. Di Eropa maupun Amerika, psikolog olahraga sudah terlibat dalam proses pelatihan para atlet. Peran vital pun dimainkan disini. Seorang psikolog menjadi partner bagi para pelatih dalam rangka menciptakan metode pelatihan yang efektif. Tentu saja dengan bekal ilmu psikologi. Perpaduan ilmu fisik manusia dengan ilmu psikis membuat pemahaman terhadap manusia lebih komplet. Banyak metode pelatihan yang merupakan sumbangan langsung dari dunia psikologi olahraga.

Selain dengan terjun langsung di lapangan, psikologi olahraga juga memberi sumbangan melalui riset. Riset tentang hubungan antara gerak tubuh dan konsep mental memberikan masukan bagi pengembangan teknik kepelatihan maupun pengembangan cabang olahraga itu sendiri.

Di awal kemunculannya, psikologi olahraga memang berperan untuk membantu menemukan teknik pelatihan yang efektif dan efisien dalam mengembangkan kemampuan atletis para atlet. Penelitian tentang waktu tempuh pembalap sepeda adalah tonggak sejarah munculnya psikologi olahraga.

Bidang pendidikan juga tidak luput dari dunia psikologi olahraga. Para psikolog olahraga banyak yang terjun langsung memberi pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus bagi pelatih dalam konteks pemahaman terhadap manusia untuk diimplementasikan dalam proses pencetakan para atlet.

Tidak hanya dalam konteks olahraga prestasi, psikologi olahraga juga berperan pengembangan olahraga sebagai salah satu sarana mencapai psychological well being atau untuk mencapai kesehatan mental bagi masyarakat. Karena terbukti bahwa olahraga merupakan salah satu sarana yang efektif untuk menghilangkan stress maupun depresi.

Bisa dikatakan bahwa saat ini dunia olahraga profesional maupun amatir sudah sangat tergantung pada kehadiran psikologi olahraga. Pengembangan cabang ilmu ini tentu akan memberi kontribusi yang semakin besar pada peningkatan kualitas atlet maupun cabang olahraga itu sendiri di masa depan.

Sayang memang, dunia olahraga Indonesia belum begitu memperhatikan aspek mental dalam pengembangan atlet. Peran psikolog olahraga di Indonesia pun baru sebatas konsultan bagi tim maupun atlet. Bidang garap dan ruang lingkup lain dari psikologi olahraga belum digarap dengan maksimal. Namun, semua harus dilakukan dengan penuh optimisme bahwa psikologi olahraga di Indonesia akan tumbuh berkembang dalam dunia olahraga Indonesia.

Guntur Utomo

Sejarah Singkat Psikologi Olahraga

Psikologi olahraga pertama kali dikenalkan oleh Norman Triplett pada tahun 1898. Norman Triplett menemukan bahwa waktu tempuh pembalap sepeda menjadi lebih cepat jika mereka membalap di dalam sebuah tim atau berpasangan dibanding jika membalap sendiri.

Baru tahun 1925 laboratorium psikologi olahraga pertama di Kawasan Amerika Utara berdiri. Pendirinya adalah Coleman Griffith dari Universitas Illinois. Griffith tertarik pada pengaruh faktor-faktor penampilan atletis seperti waktu reaksi, kesadaran mental, ketegangan dan relaksasi otot serta kepribadian. Dia lalu menerbitkan dua buah buku, The Psychology of Coaching (1926)- buku pertama di dunia Psikologi Olahraga-dan The Psychology of Athletes (1928).

Pada tahun yang sama, di Eropa sebenarnya juga berdiri sebuah laboratorium Psikologi Olahraga yang didirikan oleh A.Z Puni di Institute of Physical Culture in Leningrad. Namun Laboratorium Psikologi Olahraga pertama di dunia sebenarnya didirikan tahun 1920 oleh Carl Diem di Deutsce Sporthochschule di Berlin, Jerman.

Setelah periode tersebut psikologi olahraga mengalami kemandekan. Baru pada tahun 1960-an psikologi olahraga kembali mulai berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan membuka konsentrasi pengajaran pada Psikologi Olahraga. Puncaknya adalah pembentukan International Society of Sport Psychology (ISSP) oleh para ilmuan dari penjuru Eropa. Kongres internasional pertama diadakan pada tahun yang sama di Roma, Italia.

Pada tahun 1966, sekelompok psikolog olahraga berkumpul di Chicago untuk membicarakan pembentukan semacam ikatan psikologi olahraga. Mereka kemudian dikenal dengan nama North American Society of Sport Psychology and Physical Activity (NASPSPA).

Journal Sekolah pertama yang dipersembahkan untuk psikologi olahraga keluar tahun 1970 dengan nama The International Journal of Sport Psychology. Kemudian diikuti oleh Journal of Sport Psychology tahun 1979. Meningkatnya minat melakukan penelitian dalam bidang psikologi olahraga di luar laboratorium memicu pembentukan Advancement of Applied Sport Psychology (AAASP) pada tahun 1985 dan lebih berfokus secara langsung pada psikologi terapan baik dalam bidang kesehatan maupun dalam konteks olahraga.

Kini Psikologi Olahraga sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kongres International Society of Sport Psychology Conference Di Yunani tahun 2000 telah dihadiri lebih dari 700 peserta yang berasal dari 70 negara. American Psychological Association pun telah memasukkan psikologi olahraga dalam divisi mandiri yakni divisi 47.

Penerbitan dan jurnal pun sudah sangat banyak. Beberapa penerbitan dan jurnal tersebut adalah (a) International Journal of Sport Psychology (1970); (b) Journal of Sport Psychology (1979) yang kemudian berubah nama menjadi 1988 Journal of Sport and Exercise Psychology; NASPSPA pada tahun 1988. penerbitan lain adalah The Sport Psychologist (1987)—sekarang, Journal of Applied Sport Psychology (1989)— sekarang, serta The Psychology of Sport and Exercise.


Guntur Utomo

Selamat Datang di Psikologi Olahraga!

Psikologi olahraga memang belum begitu terkenal di Indonesia. Hal ini barangkali dipengaruhi oleh iklim industri olahraga yang juga belum begitu maju. Di Eropa ataupun di Amerika, psikologi olahraga seakan-akan sudah tidak bisa lagi dilepaskan dari dunia olahraga disana. Mereka sadar bahwa pelaku olahraga tersebut adalah manusia yang mempunyai sisi emosional selain sisi fisikal.

Psikologi olahraga sendiri adalah cabang ilmu psikologi yang secara spesifik bergulat dengan dunia olahraga. Baik dalam hal peningkatan kondisi mental atlet, penanganan terhadap atlet yang mengalami gangguan emosi, sampai berperan pada peningkatan efektifitas latihan di lapangan. Semua itu tentu saja dengan dasar ilmu psikologi yang dimiliki.

Blog ini akan mengajak semua orang yang tertarik berbincang mengenai dunia psikologi khususnya yang berkaitan dengan olahraga. DI masa mendatang, diharapkan blog ini akan menjadi salah satu perangsang bagi perkembangan diskusi mengenai bidang yang belum populer di Indonesia ini. Semoga dengan lahirnya blog ini, akan semakin banyak orang yang akan tertarik memperbincangkan mengenai psikologi olahraga.

Kritik, masukan, komentar, akan sangat berarti bagi pengembangan blog ini ke depan.