Tuesday, May 12, 2009

Meredakan Stress dengan PMR


Stress merupakan salah satu gangguan serius bagi seseorang. Stress memberi pengaruh secara langsung terhadap tubuh manusia. Keringat dingin, jantung berdebar, otot kaku hingga muntah-muntah. Untuk seorang atlet, tentu saja ini adalah kondisi yang merugikan. Ketika atlet menghadapi stress, maka segala macam keterampilan yang susah payah dilatihkan menjadi hilang seketika. Untuk itulah, stress harus dikelola dengan baik. Salah satunya metode pengelolaannya adalah dengan PMR (Progressive Muscle Relaxation) atau biasa disebut dengan relaksasi otot.
Latihan relaksasi otot merupakan metode melatih otot untuk merasakan ketegangan dan dalam kesempatan yang sama mengajari untuk meredakannya. PMR dilakukan kepada semua otot tubuh, mulai dari ujung kaki hingga otot-otot bagian atas tubuh. Ketika seseorang mengalami kondisi stress, maka otot-otot akan kaku. Sebagian besar orang yang dalam kondisi ini tidak menyadarinya. Dengan latihan teratur, maka tubuh akan menjadi rileks yang akhirnya stress pun akan menghilang.

Berikut ini beberapa langkah melakukan Progressive Muscle Relaxation:

1. Ambil posisi yang nyaman dan ambil nafas dalam-dalam selama beberapa menit.
2. Selanjutnya, kencangkan otot-otot tertentu selama kurang lebih 5-10 detik. Lalu segera lepaskan ketegangan dan istirahatkan otot selama kurang 15-30 detik.
3. Rasakan perbedaan sensasi saat otot tegang dan saat otot rileks.
4. Urutan otot yang dilatih bisa bervariasi. Ada yang memulainya dari bawah, tapi ada yang memilih untuk melakukannya dari atas. Yang penting adalah lakukan dengan urutan yang konsisten.
5. Berikut contoh urutannya:

>Kaki kanan, betis kaki kanan hingga telapak kaki kanan, lalu keseluruhan kaki kanan.
>Kaki kiri, betis kaki kiri hingga telapak kaki kiri, lalu keseluruhan kaki kiri.
>Tangan kanan, dari lengan tangan kanan hingga telapak tangan kanan, lalu keseluruhan tangan kanan. Menggenggamlah saat melakukannya.
>Tangan kiri, dari lengan tangan kiri hingga telapak tangan kiri, lalu keseluruhan tangan kiri. Menggenggamlah saat melakukannya.
>Wajah. Untuk menegangkan otot wajah, tariklah otot-otot pipi dengan memejamkan mata. Rasakan ketegangannya.
>Leher dan bahu.
>Perut.

6. Akhiri latihan dengan mengambil posisi rileks selama beberapa menit, ambil nafas dalam-dalam dan cobalah nikmati. Selanjutnya, buka mata dan lakukan beberapa stretching. Goyang-goyangkan jemari kaki dan jemari tangan.

Latihan ini harus dilakukan secara rutin. Waktu yang ideal untuk melatihnya adalah menjelang tidur dan dilakukan diatas tempat tidur tanpa menggunakan bantal. Ingat, pada saat melakukan latihan ini, cobalah untuk bernafas seperti biasa secara teratur. Jangan menahan nafas saat menegangkan otot. Selain itu, redupkanlah lampu kamar agar tidak mengganggu serta jangan mendengarkan musik saat melakukannya. Musik akan mempunyai kecenderungan mengganggu seseorang dalam berkonsentrasi merasakan perbedaan antara otot tegang dan otot rileks.

Dengan menyadari ketengangan ototnya, maka seseorang akan mampu untuk menjadikannya rileks. Pada saat stress, dimana otot menjadi tegang, atlet sudah terbiasa untuk menghindarinya. Latihan ini bukan bertujuan menghilangkan sumber stress, tapi bertujuan untuk mengurangi akibat buruk dari stress yang dialami. Akhirnya, penampilanpun akan terjaga tanpa harus terganggu stress.

Selamat mencoba!

Guntur Utomo

Wednesday, March 18, 2009

Apakah Imagery Training itu?


Imagery sering disebut dengan guided imagery, visualization, latihan mental, atau self hypnosis. Imagery adalah teknik yang biasa digunakan oleh psikolog olahraga untuk membantu seseorang memvisualisasikan atau melatih mental berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Dalam konteks olahraga, imagery digunakan untuk membantu atlet membuat visualisasi yang lebih nyata berkaitan dengan pertandingan atau kompetisi yang akan dijalaninya.

Imagery membantu atlet untuk menciptakan gambaran yang riil berkaitan dengan kesulitan dan masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi oleh para atlet selama pertandingan. Seperti diketahui, atlet seringkali membuat gambaran yang tidak nyata baik tentang dirinya maupun tentang lawan yang akan dihadapi. Menganggap lawan lebih superior, kemampuan teknisnya masih rendah atau lingkungan pertandingan yang menekan seringkali muncul di benak para atlet ketika menyiapkan diri untuk sebuah pertandingan.

Efeknya, seringkali atlet merasa rendah diri dan akhirnya merasa cemas yang berlebihan. Jika berlanjut terus menerus, maka kecemasan tersebut akan mengganggu performa atlet tersebut. Kecemasan yang muncul sebelum bertanding akan mengurangi konsentrasi dan membuat penampilannya menurun.

Selain itu, Imagery juga dapat membantu atlet untuk meningkatkan motivasinya. Dengan gambaran diri yang jelas, maka atlet akan menyadari kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dapat dia gunakan sebagai senjata untuk mengalahkan lawan, sedangkan kelemahan bisa menjadi evaluasi agar kekurangan-kekurangannya bisa ditutupi dengan teknik yang lain.

Imagery juga digunakan untuk membayangkan hasil akhir yang diharapkan. Dalam bahasa yang lain, atlet diajak untuk mempunyai pikiran yang positif mengenai dirinya dalam rangka menjalani kompetisi atau pertandingan yang akan dihadapi. Dengan pikiran yang positif, ketenangan, konsentrasi dan motivasi akan berada dalam posisi yang optimal.

Imagery bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Meningkatkan performa, konsentrasi hingga proses penyembuhan cedera bisa menggunakan proses imagery. Imagery bisa menjadi bagian dari proses latihan yang diberikan secara rutin dan berkala.

Panduan Imagery
Jika baru pertama kali mempraktikkan teknik ini, akan lebih baik jika seorang atlet didampingi oleh seorang fasilitator yang terlatih. Tugas dari fasilitator ini adalah membantu atlet menjalani tahap demi tahap secara optimal. Selain itu, video atau rekaman atau catatan-catatan juga penting untuk membantu menentukan arah proses melakukan imagery training ini. setelah merasa nyaman dengan teknik ini, seorang atlet bisa mencobanya sendiri. Berikut ini tahap-tahap yang harus dilalui dalam menjalankan latihan imagery ini.

1.Duduklah di tempat yang nyaman dan tidak ada gangguan.

2.Nyamankan tubuh dengan mengambil nafas panjang dan perlahan-lahan.

3.Tutup mata dan ciptakan gambaran yang jelas dan meyakinkan. Gambaran ini bisa jadi merupakan gambaran dari peristiwa yang pernah dialami atau bisa juga sesuatu yang diinginkan.

4.Jika tiba-tiba muncul gambaran lain yang mengganggu atau tiba-tiba berfikir tentang sesuatu yang lain, segeralah sadari dan kembali ke gambaran semula.

5.Fokuslah pada pernafasan jika kehilangan gambaran yang diinginkan tadi.

6.Pertahankan sikap yang positif.

7.Bayangkan penglihatan, suara-suara, rasa, perasaan, bahkan bau dari pengalaman.

8.Catatlah detil-detil dari gambaran tersebut sebaik mungkin. Apa yang dipakai, siapa saja yang ada disana, apa yang didengar, bagaimana perasaan Anda?

9.Jika sesi latihan imagery itu tidak berjalan sesuai keinginan, maka bukalah mata dan segera memulainya lagi yang diawali dengan pernafasan.

10.Selalu mengakhiri latihan Imagery dengan gambaran yang positif.

Imagery bisa dipadu dengan teknik yang lain seperti self talk. Jika dilakukan dengan teliti, maka imagery akan menjadi senjata yang ampuh untuk mencapai prestasi.

Guntur Utomo

Tuesday, March 3, 2009

Ketika Motivasi Ekstrinsik menjadi Efektif


Seperti banyak diketahui bahwa motivasi ada yang berasal dari dalam diri, yang disebut dengan motivasi intrinsik dan ada yang berasal dari luar diri, yang biasa disebut dengan motivasi ekstrinsik. dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas tentang motivasi intrinsik dan cara-cara menumbuhkannya di dalam diri atlet.
Sudah jamak jika para pelatih, penggurus atau manajer memberi iming-iming berupa bonus bagi atletnya yang berprestasi. Seperti para atlet olimpiade Indonesia kemarin yang mendapat bonus 1 Milyar rupiah untuk peraih medali emas. Atau banyak tim sepakbola Indonesia yang menjanjikan bonus jika memenangi laga, khususnya ketika bertandang ke kandang lawan.

Bonus, hadiah atau semacamnya adalah bentuk-bentuk motivasi yang berasal dari luar diri individu. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah bonus-bonus semacam ini efektif untuk mendongkrak motivasi para atlet? Bagaimana jika ternyata bonus yang diberikan kurang besar, apakah bonus masih akan efektif? Bagaimana mengubah motivasi ekstrinsik agar berjalan efektif dan mempunyai kekuatan untuk menggerakkan perilaku seseorang?

Pada tahun 1985, Deci and Ryan menerbitkan buku yang berjudul “Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior”. Dalam bukunya, Deci dan Ryan memaparkan beberapa tipe motivasi eksternal dari yang sifatnya paling lemah ke sesuatu yang paling kuat. Berikut ini penjelasan tentang 4 tipe motivasi ekstrinsik:

1.External regulation.
Regulasi eksternal mempunyai makna bahwa sebuah perilaku muncul dalam rangka mendapatkan benda-benda/sesuatu yang bersifat eksternal (medali, trofi) serta dalam rangka menghindari tekanan (tekanan sosial). Bukti bahwa seorang atlet sedang berada dalam fase regulasi eksternal adalah ketika mereka mengatakan, “Saya akan pergi berlatih hari ini karena saya tidak ingin dicadangkan oleh pelatih pada pertandingan mendatang!”
Dalam ucapan ini tampak bahwa pemain tersebut datang ke latihan hanya karena dia takut tidak bermain di tim inti. Jadi motivasinya bukan karena memang dia membutuhkan latihan. Bagaimana seandainya sang pelatih sudah cinta mati kepadanya? Tentu saja dia akan sering mangkir latihan, karena toh nggak latihan saja dia tetap akan main di tim utama.

2.Introjected regulation.
Dalam tipe kedua dari motivasi ekstrinsik ini pemain mulai menginternalisasi alasan-alasan dari perilakunya. Internalisasi alasan ini menggantikan kontrol dari luar seperti dalam external regulation. Dia menggantikan kontrol eksternal dengan susaatu yang berasal dari dalam diri. Masih dalam konteks latihan, pemain yang mempunyai introjected regulatioan ini akan mengatakan, “Saya berlatih karena saya akan merasa bersalah seandainya tidak datang.”
Dengan kata lain, meskipun sumbernya masih berasal dari luar, tapi pemain sudah mulai menggunakan unsur yang berasal dari dalam dirinya, yakni rasa bersalah. Tapi sekali lagi, bukan di dasarkan atas kebutuhan akan latihan yang berasal dari dalam dirinya.

3.Regulated through identification
Setelah melewati proses internalisasi, seorang pemain mempunyai pilihan atas perilaku-perilaku yang akan dia lakukan. Perilaku-perilaku tersebut akan dibandingkan dan dinilai mana yang layak untuk dilakukan. dalam fase ini, motivasi eksrinsik telah bergerak ke arah regulated through identification, yakni munculnya perilaku-perilaku yang dinilai dan menjadi pilihan untuk dilakukan. Pemain sudah bisa mengidentifikasi perilaku yang harus diambil.
Dalam ucapan, pemain yang sudah mempunyai motivasi ekstrinsik tipe ini akan mengatakan, “ Saya memilih untuk berlatih karena berlatih akan membantuku tampil lebih baik untuk pertandingan mendatang.” Contoh itu menggambarkan bahwa pemain tersebut sudah mulai memiliki kesadaran akan pilihan didasarkan atas nilai atau sesuatu yang lebih baik.

4.Integrated regulation
Tipe keempat yang juga tipe paling tinggi berdasarkan teori self determinism adalah integrated regulation. Dalam integrated regulation ini, pemain sudah memilih sebuah perilaku untuk dikerjakan yang bergerak dari motivasi eksternal ke tindakan yang terpilih. Dalam kasus ini, pilihan yang diambil oleh seseorang dibuat berdasarkan fungsi-fungsi yang berhubungan dengan berbagai macam aspek dari diri seseorang. Seorang atlet sudah memilih untuk tetap tinggal di rumah dibanding jalan-jalan bersama teman-teman, sehingga atlet tersebut akan siap menghadapi pertandingan esok hari.
Ada pilihan-pilihan aktivitas lain yang muncul bersamaan dengan aktivitas yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemain. Dalam tahap ini, berarti memang motivasi eksternal mencapai titik efektifnya karena selain menjadi pengatur perilaku atlet, motivasi eksternal ini juga sudah memberi kesadaran bagi seorang atlet akan perilaku yang seharusnya dialakukan.

Guntur Utomo

Friday, February 20, 2009

Penting kah Psikologi Olahraga?


Di Indonesia, memang belum banyak orang yang "peduli" dengan psikologi olahraga. Untuk ilmu psikologinya mungkin sudah lumayan berkembang. Buktinya, perusahaan-perusahaan, sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit sudah mulai mempekerjakan para psikolog. Ini juga satu bukti kalau ilmu psikologi sudah mulai diterima di masyarakat Indonesia. Tapi ketika berbicara tentang psikologi olahraga, apakah psikologi olahraga sudah menjadi kebutuhan?

Beberapa waktu lalu, melalui e-mail saya bertanya kepada Bp Monty Satiadarma. Beliau adalah salah satu psikolog yang concern terhadap olahraga dan psikologi olahraga dan saat ini menjabat ketua Ikatan Psikologi Olahraga, salah satu organisasi di bawah Himpsi (Himpunan Psikologi Indonesia). Beliau mengatakan bahwa memang psikologi olahraga di Indonesia belum semaju cabang ilmu psikologi yang lain. Hal ini karena memang kebutuhan akan ilmu ini belum begitu tampak.

Sebenarnya tidak ada, tapi memang belum tampak. Kalimat ini yang harus di garis bawahi. Pertanyaannya kemudian adalah apakah karena industri olahraga di Indonesia yang belum maju ini mempengaruhi kebutuhan akan ilmu psikologi di ranah olahraga? Ataukah jangan-jangan para pelaku olahraga di Indonesia yang memang belum sadar akan artinya pembangunan olahraga secara utuh sehingga tidak melibatkan ilmu pengetahuan dalam proses meningkatkan kualitas olahraga di Indonesia?

Tentu saja ini adalah pertanyaan-pertanyaan menarik untuk dikaji lebih dalam. Mungkin seandainya ada penelitian yang mengungkapnya akan jauh lebih menarik lagi. Sayang memang pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab secara empirik. Semua masih menduga-duga, semua masih bersifat kira-kira. Tapi yang paling jelas adalah memang psikologi olahraga di Indonesia belum banyak berbicara di dalam perilaku olahraga di Indonesia, baik olahraga prestasi maupun olahraga rekreasi.

Baiklah, mari kita cermati pelan-pelan pentingnya psikologi olahraga ini. Sebagai cabang ilmu yang relatif "baru" psikologi olahraga di Indonesia memang belum di kenal luas. Bahkan dalam beberapa kesempatan berbincang dengan beberapa mahasiswa dari Universitas unggulan di Jogja, terkuak bahwa ilmu psikologi olahraga bahkan belum banyak mereka kenal. Ketika ditanya apakah tertarik dengan psikologi olahraga, beberapa menjawab ,"Oh ada toh, psikologi olahraga itu?" atau bahkan, "Apa itu, terus kerjaannya ngapain?" bayangkan, ini adalah komentar-komentar dari para mahasiswa Fakultas Psikologi! Jadi tidak heran kalau orang awam bahkan tidak mengenal sama sekali.

Inilah persoalan yang dihadapi oleh psikologi olahraga di Indonesia. Barangkali kata yang lebih tepat adalah "tantangan" yang dihadapi. Seiring dengan semakin ketatnya persaingan dalam olahraga prestasi di dunia, dibutuhkan proses pembinaan yang komprehensif kepada para atlet. Selama ini para pelaku olahraga Indonesia seolah tertidur karena selama puluhan tahun dininabobokan oleh bakat-bakat alam yang tersebar di penjuru nusantara. Tidak perlu digarap, mereka sudah datang dengan bakat yang sangat luar biasa. Kebetulan juga negara-negara tetangga Indonesia belum begitu maju, selain sumber daya manusia terbatas, mereka juga belum menerapkan program pembinaan yang benar, sehingga Indonesia tampak sangat dominan.

Namun, satu dekade terakhir, situasi berubah. Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam berbenah. Sadar sumber daya manusianya terbatas, mereka mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam membina para atletnya. Hasilnya? Thailand selalu jawara di SEA GAMES, bahkan mereka sudah membidik level ASIA bahkan OLIMPIADE. TIm sepakbola VIetnam mulai menancapkan kukunya di belantara sepakbola Asia Tenggara dengan Juara Piala AFF 2008. Apa yang mereka lakukan? Mereka mendidik para atletnya dengan benar.

Itulah masalah yang dihadapi oleh Indonesia. Para pelaku olahraga Indonesia masih malas untuk melakukan sesuatu. Jangankan menggandeng ilmu pengetahuan, melakukan regenerasi saja masih takut. Atlet-atlet tua juga yang akhirnya masih harus tampil membela Indonesia. Akhirnya, ya bisa dilihat, semua tampak tidak ideal dan "sedikit" memalukan.

Saya pikir, kasus psikologi olahraga juga dirasakan oleh ilmu-ilmu lain dalam konteks olahraga. Tidak adanya kesadaran dari para pembina dan pelaku olahraga membuat situasi menjadi agak rumit. Sebenarnya bukan tidak adanya kesadaran, tapi memang ketidaktahuan yang membuat kondisi ini terjadi.

Seberapa Penting?
Berbekal bakat memang atlet bisa menjadi juara, tapi bisa dipastikan tidak akan maksimal. Tubuh dan mental adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tubuh mempengaruhi mental, begitupun sebaliknya, mental sangat mempengaruhi tubuh. Jika salah satu sakit, lainnya akan ikut sakit. Begitu kira-kira logika sederhana yang bisa dipakai. Jika atlet berlatih dengan sangat keras, modal bakat hebat, tapi tidak dibarengi penguasaan mental yang baik, mungkin dia hanya akan jadi jago kandang.

Apakah Michael Phelps bisa hebat hanya karena bakat? Tentu saja tidak. Tidak ada yang menyangka bocah penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorders) ini mampu memecahkan rekor dunia. Jangankan bertanding, waktu kecil dia diam sejenak saja tidak mampu. Namun, berkat pembinaan yang baik, dia menjelma menjadi Raja Kolam Renang Olimpiade Beijing. Pertanyaan kemudian, apakah Bob Bowman, pelatihnya, hanya bermodal kemampuan teknis untuk melatihnya? Pasti tidak. DIsekelilingnya pastilah orang-orang mumpuni dibidang masing-masing. Pastilah dia dikelilingi oleh ahli nutrisi, ahli medis, ahli ilmu gerak tubuh, dan tentu saja ahli di bidang ilmu psikologi olahraga. Hasilnya, Phelps yang mahakuat di kolam renang!

Dalam kasus lain, apakah seorang Jose Mourinho hanya mengandalkan pengalaman dalam melatih tim yang ditanganinya? Saya yakin tidak! Mourinho bukan mantan pemain top. Dia hanya beberapa tahun menjadi pemain medioker, selanjutnya, dia hanya menjadi penterjemah bagi Louis Van Gaal di Barcelona? Lalu bagaimana dia bisa meracik para pemain sehingga menjelma menjadi tim juara?

Mourinho adalah contoh profesional sejati di bidangnya. Seorang profesional seharusnya menguasai segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia profesinya. Ilmu kepelatihan pasti, ilmu gerak tubuh tentu saja, ilmu nutrisi itu sebuah keharusan dan terpenting, ilmu psikologi hukumnya wajib bagi Mourinho. Terlihat bagaimana dia bisa menaklukkan seorang Adriano yang terkenal sangat tidak disiplin. Ditangannya, Adriano kembali menjadi sumber gol bagi Inter Milan. Tentu saja, ini berkat pendekatan psikis Jose dengan Adriano. Dia tahu betul bagaimana "Menguasai" si bengal Adriano.

Beberapa contoh di atas adalah gambaran betapa sebenarnya psikologi olahraga memegang peranan penting bagi pembangunan olahraga prestasi. Sederhananya, jika mau juara pakailah pendekatan psikologi dalam setiap aspeknya bersama dengan ilmu lainnya. Selama para pelatih hanya mengandalkan pengalaman atau insting saja, niscaya olahraga Indonesia akan berbicara banyak di Pentas Dunia.

Guntur Utomo

Thursday, February 19, 2009

Motivasi Intrinsik, Penting!

Seperti disebutkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, motivasi terdiri dari dua jenis motivasi, yakni motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Pada tulisan ini, akan dibahas lebih jauh mengenai motivasi intrinsik. Secara umum, motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang melakukan tindakan atau perilaku tidak berasal dari motif-motif atau dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri.

Belakangan, dunia bulu tangkis Indonesia sedang mengalami gonjang-ganjing lantaran banyak pemain elitnya yang menolak untuk masuk dalam pelatnas Cipayung. Tercatat Markis Kido dan adik-adiknya, serta Vita Marisa menyatakan keluar dari pelatnas menyusul Taufik Hidayat yang menyatakan pertama. Penyebabnya, konon, adalah tidak adanya kecocokan antara PBSI dan para atlet tersebut soal harga kontrak. Kontrak yang ditawarkan kepada para atlet oleh PBSI dirasakan terlalu kecil.

Contoh lain adalah ketidakmauan Kaka untuk pindah dari AC Milan meski ditawari ratusan juta dollar oleh Manchester City. Kaka menolak karena merasa sudah sangat nyaman dengan Milan serta merasa berhutang kepada para Milanisti yang selama ini berdiri di belakangnya. Iming-iming kontrak ratusan juta dollar serta gaji selangit tak menggoyahkan keinginan Kaka untuk berbuat yang terbaik di Milan.

Kedua contoh di atas merupakan bentuk reaksi para atlet terhadap iming-iming uang yang merupakan bentuk motivasi yang berasal dari luar diri. Dalam kasus pertama, di luar motivasi untuk bermain dan berprestasi, ternyata ada batasan tertentu sumber motivasi ekstrinsik tersebut untuk bisa menggugah perilaku seorang atlet. Para pemain bulu tangkis tersebut merasa prestasinya tidak mendapat penghargaan yang setimpal dari PBSI yang, tentu saja, juga diuntungkan dari prestasi para atlet tersebut.

Untuk kasus Kaka, ternyata motivasinya untuk tetap berada di Milan jauh lebih lebih besar dibanding iming-iming uang yang sudah tidak rasional itu. Memang Kaka telah mendapat gaji yang tidak kecil juga di Milan, tapi juga keinginannya untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi menahan Kaka untuk tidak menyanggupi tawaran klub dengan dana tak terbatas itu.

Keduanya memberi contoh, kasus bulutangkis, Motivasi Eksternal yang tidak cukup memadai ternyata tidak mampu membuat seseorang berperilaku tertentu. Sedang kasus kedua, motivasi intrinsik yang dimiliki Kaka ternyata lebih besar dibanding dengan sumber motivasi ekstrinsik yang ditawarkan Manchester City.
Tipe Motivasi Intrinsik

Mengapa motivasi intrinsik penting bagi seorang atlet? Tidakkah cukup diberi uang saja agar para atlet mau untuk menunjukkan kehebatannya? Jawabannya mungkin relatif, tapi menilik kasus di atas, uang ternyata bisa penting, tapi bisa juga tidak. Motivasi Intrinsik penting karena setiap individu mempunyai individual differences yang membedakan dengan orang lain. Individual differences ini meliputi kesenangan, tingkat kepuasan, kemampuan penyesuaian diri, tingkat emosi, kerentanan dan sebagainya.

Selain itu, motivasi intrinsik jauh lebih sakti untuk bisa memunculkan sebuah perilaku tertentu. Kesaktiannya lantaran motivasi ini berasal dari dalam diri, sehingga mempunyai kecenderungan yang lebih kuat serta tahan lama. Berbeda dengan motivasi ekstrinsik, ketika sumber motivasi itu sudah hilang atau berkurang nilainya, maka perilaku yang diharapkan tidak akan muncul.

Menurut Vallerand, dkk., secara garis besar, ada 3 tipe motivasi intrinsik.

1. Motivasi Intrinsik untuk Tahu.
Dalam motivasi untuk tahu ini, seseorang melibatkan diri dalam sebuah aktivitas karena kesenangan untuk belajar. Dalam konteks olahraga, motivasi ini penting dalam proses latihan. Para pemain harus mempunyai motivasi intrinsik jenis ini untuk memastikan bahwa mereka selalu terlibat dalam proses latihan dengan baik. Untuk selalu menggugah motivasi ini, para pelatih juga harus selalu kreatif menciptakan metode latihan yang selalu memberi sesuatu yang baru kepada para pemain. Jika pelatih gagal memberi sesuatu yang baru, mungkin motivasi yang sudah dimiliki oleh para pemain akan luntur perlahan-lahan.

2. Motivasi Intrinsik yang berkaitan dengan pencapaian.
Manusia selalu mempunyai naluri untuk mencapai sesuatu. Bahkan secara ekstrem, orang yang sudah kaya raya pun tidak pernah berhenti untuk mengeruk harta. Ini membuktikan bahwa setiap manusia mempunyai keinginan untuk mencapai sesuatu. Dalam konteks olahraga, atlet sebenarnya juga mempunyai hal serupa. Motivasi intrinsik tipe ini seseorang melakukan aktivitas karena terdorong oleh kesenangan mencoba untuk melampaui dirinya sendiri. Artinya ada keinginan untuk lebih dan lebih. Seorang pelatih bisa menciptakan hal ini dengan selalu membawa unsur kompetisi dalam proses latihan. Para pemain juga harus selalu mengikuti kompetisi yang kompetitif dengan jenjang yang selalu meningkat. Selain untuk mengevaluasi kemampuan, tapi juga agar mereka selalu terfasilitasi untuk melewati pencapaian yang sudah pernah diperoleh.

3. Motivasi Intrinsik untuk merasakan stimulasi.
Jenis ini mendorong seseorang untuk terlibat dalam sebuah aktivittas dalam rangka merasakan kenikmatan yang sensasional. Para atlet panjat tebing, pendaki gunung dan sebagainya adalah contoh orang-orang yang selalu ingin merasakan pengalaman yang sensasional ini. Untuk atlet lain, barangkali dengan mendapat pencapaian tertinggi, maka pengalaman sensasional ini akan tercapai. Bayangkan jika seseorang berhasil mendapatkan medali emas olimpiade, pasti luar biasa. Untuk itulah, para atlet harus selalu dirangsang untuk selalu mengeset sasarannya setinggi mungkin.

Guntur Utomo