Friday, December 5, 2008

Cepat Ambil Keputusan!

Sebagai seorang penggemar berat sepakbola tentu pertandingan sepakbola adalah hal yang sayang untuk ditinggalkan. Termasuk juga pertandingan sepakbola yang menampilkan klub-klub (katanya) profesional Indonesia. Memang banyak orang mengatakan kalau sia-sia saja nonton pertandingan sepakbola lokal, hasilnya pasti mengecewakan.
Tapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Kompetisi sepakbola Indonesia sudah (hampir) bisa dinikmati. Setelah berganti nama menjadi Liga Super Indonesia, tampaknya memang sedikit ada perubahan dalam hal bermain. Meskipun memang masih banyak menjadi catatan. Tulisan ini tidak akan mengulas bagaimana PSSI atau BLI mengatur jalannya Liga, karena sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi, manajemen liga masih banyak kekurangan.

Tapi marilah kita melihat dari dekat bagaimana tim-tim sepakbola Indonesia itu bermain. Sedikit perubahan permainan yang saya tadi katakan diawal salah satunya dipengaruhi oleh kondisi lapangan yang sudah agak rata. Sehingga laju bola bisa lebih terkontrol. Bandingkan dengan kondisi lapangan 1 atau 2 tahun yang lalu. Bahkan bisa dikatakan kalau kondisi sebagian besar lapangan bisa dibilang setara dengan sawah. Becek, tidak rata dan keras.

Lapangan dalam kondisi yang lebih rata memungkinkan laju bola lebih mulus, sehingga umpan-umpan pendek lebih bisa dimaksimalkan. Beberapa tim yang menerapkan umpan-umpan pendek dalam pola permainannya antara lain Pelita Jaya, Persipura, Persiwa. Mereka tampak menikmati bermain dengan gaya umpan-umpan pendek yang cepat. Hasilnya, Persipura dan Persiwa kini bertengger dipuncak klasemen, sedangkan Pelita yang dihuni para pemain muda relatif naik turun. Tapi paling tidak, permainan Pelita sedikit menghibur.

Pengambilan Keputusan

Diluar sedikit perubahan di atas, kualitas permainan sepakbola Indonesia masih rata-rata bawah. Terlalu berlama-lama dengan bola, tidak segera membuka ruang, tidak segera memberi umpan, salah passing, crossing yang jelek, serta kebrutalan pemain dalam melakukan tekel masih mewarnai pertandingan sepakbola di Liga Super Indonesia.

Catatan dalam tulisan ini akan dititikberatkan pada konteks pengambilan keputusan dari para pemain. Pengambilan keputusan (decision making) adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh para pemain. Bagaimanapun juga, bermain sepakbola pada prinsipnya adalah memecahkan masalah karena ada tekanan dari lawan untuk mencetak gol.

Pengambilan keputusan salah satunya dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan seorang pemain. Selain itu, faktor yang menentukan kecepatan pengambilan keputusan adalah proses otomatisasi yang dibentuk dalam proses latihan sehari-hari. Bisa dikatakan, bermain sepakbola adalah sebuah aktivitas setengah refleks hasil dari pembiasaan. Dalam teori psikologi, keterampilan bermain sepakbola adalah hasil dari proses belajar yang akhirnya menciptakan kebiasaan.

Dalam permainan sepakbola, pemain yang dengan cepat mengambil keputusan dan benar, akan menjamin aliran bola yang cantik dan cenderung akan menyulitkan lawan. Contoh kasus adalah yang dilakukan oleh para pemain Manchester United maupun Arsenal. Mereka begitu cepat mengalirkan bola. Demikian juga pemain yang bergerak tanpa bola, mereka begitu cepat mencari ruang kosong. Seolah-olah semuanya sudah otomatis. Ya, bermain sepakbola sebenarnya adalah otomatisasi gerak.

Dalam melatihkan otomatisasi gerak ini, para pelatih perlu untuk memahami prinsip-prinsip psikologi belajar dan modifikasi perilaku. Prinsip dasar dalam psikologi belajar adalah dengan memunculkan penguat untuk perilaku-perilaku yang ingin dimunculkan. Prinsip ini mengacu pada teori operant conditioning yang dikemukakan oleh Skinner.

Secara sederhana, perilaku (dalam hal ini eksekusi teknis sepakbola) yang benar harus diperkuat dengan memberikan semacam reward. Reward atau penghargaan pun harus diberikan secara langsung. Hal ini untuk menunjukkan secara spesifik perilaku mana yang benar. Menurut banyak penelitian, perilaku yang diberi reward ini mempunyai kecenderungan untuk diulangi lagi.

Contoh kasus adalah pada saat para pemain berlatih passing. Jika seorang pemain melakukan passing dengan benar, maka segeralah diberi reward. Tentu saja reward disini tidak harus berupa barang yang secara material berharga mahal. Tapi reward bisa berupa pujian atau sanjungan. Syaratnya adalah diberikan secara langsung dan spesifik berkaitan dengan gerakan atau perilaku yang dituju. Jangan ditunda, karena sudah tidak akan banyak berefek. Jangan juga terlalu general karena tidak akan banyak mengena.

Latih dalam pertandingan

Prinsip belajar dalam sepakbola harus dikenalkan sejak usia dini. Pelatih harus mulai membentuk pemain yang mempunyai teknik dan keterampilan yang benar. Cara menendang, posisi tubuh, penggunaan permukaan kaki,mengontrol bola, mengambil posisi dan sebagainya. Ingat prinsip reward dan punishment harus diterapkan. Pelatih harus “cerewet” dalam melatihkan gerakan-gerakan baru tersebut.

Untuk mengurangi kebiasaan pemain melakukan gerakan yang salah, para pelatih bisa menerapkan prinsip mengurangi reward. Ini adalah semacam memberi hukuman dengan tidak menghukum tapi mengurangi “hadiah” yang diberikan. Logikanya, seseorang akan senang ketika menerima hadiah, sebaliknya, tidak akan senang jika hadiah yang seharusnya mereka peroleh itu diambil. Nah, untuk itulah prinsip itu digunakan.

Syarat lain adalah seorang pelatih harus membuat ukuran yang jelas tentang benar atau tidaknya sebuah gerakan dilakukan. Untuk itu, sebelum memulai latihan, pelatih harus membuat program yang terencana, sehingga kemajuan pemain bisa dijaga. Pelatih juga harus menguasai teknik-teknik tersebut dengan baik. Kursus, belajar dari buku dan belajar dari pelatih-pelatih yang lebih mapan akan membantu.

Setelah dalam proses latihan bisa berjalan dengan benar, pengambilan keputusan harus dimatangkan dalam sebuah proses latihan, baik dalam bentuk small sided games, maupun dalam kompetisi. Ini penting untuk menguji sejauh mana teknik tersebut bisa diadaptasi dan akhirnya diterapkan dalam tekanan yang nyata. Guntur

"Theo Walcott Sukses Berkat Psikologi Olahraga"

TEMPO Interaktif

Selasa, 23 September 2008

London: Psikolog olahraga kenamaan asal Inggris, Carole Seheult, menilai peran psikologi olahraga di dunia sepakbola modern sangat penting. Seheult menganggap salah satu contoh peran psikologi terlihat dalam kesuksesan pemain Arsenal Theo Walcott.
Menurut Seheult, meski pesan yang disampaikan manajer ataupun staf tim sebelum pertandingan Arsenal sangat sederhana, pesan tersebut sangat berguna bagi para pemain. "Kuatnya hubungan antarpemain menentukan apakah semangat tim akan kuat atau lemah. Dan Anda bisa melihatnya di Arsenal," ujar Seheult.

"Lihat saja cara Wenger membesut Theo Walcott. Itu merupakan psikologi yang baik agar dia bisa mengembangkan diri sendiri dan melesatkannya," lanjut Seheult.

Akan tetapi, kata Seheult, salah satu faktor yang harus diperhitungkan adalah dinamika tim. Oleh sebab itu, kesatuan antar-pemain harus terus dijaga. "Para pemain harus melihat di antara mereka bukan sebagai pesaing. Dan mereka tidak perlu khawatir jika rekan setim mereka lebih bersinar ketimbang mereka," tegas mantan psikolog yang bekerja untuk Aston Villa tersebut.

Saat membela tim nasional Inggris dua pekan lalu, Walcott tampil gemilang dengan melesakkan tiga gol sehingga membawa Inggris menang 4-1 melawan Kroasia di kualifikasi Piala Dunia 2010.

Akibat penampilan gemilangnya di tim nasional Inggris, Walcott menjadi sasaran para pemain Bolton Wanderers pada pertandingan lanjuta Liga Inggris akhir pekan lalu. Arsenal sendiri saat ini bercokol di peringkat pertama klasemen sementara Liga Inggris dengan 12 poin dari empat kali menang dan sekali kalah. Mereka terpaut satu poin dari posisi kedua, Chelsea.

Daily Mirror| Kodrat Setiawan



Thursday, November 20, 2008

Timnas Sepakbola; Butuh Tambah Darah!


Menyaksikan pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Ulsan Hyundai dalam Turnamen Grand Royal Challenge di Myanmar kemarin, rasanya ada yang hampa. Terutama setelah memasuki babak kedua. Puncaknya, ketika laga harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu 2 x 15 menit setelah pada babak reguler skor masih bertahan 0-0.

Ulsan sebenarnya mempunyai kesempatan untuk unggul karena pada sekitar menit 70 mendapat hadiah tendangan penalti setelah salah satu pemainnya diganjal keras oleh Usep Munandar di area kotak penalti Indonesia. Tapi apa daya, tendangannya melenceng di sebelah kanan gawang yang dijaga oleh Markus Horison.

Setelah insiden penalti tersebut, pertandingan rasanya berjalan sangat lambat. Tidak ada lagi aksi ngotot untuk menjebol gawang lawang. Hanya sesekali para pemain Ulsan melakukan serangan sporadis dengan umpan-umpan diagonal ke kotak penalti Indonesia. Tapi hasilnya tetap nihil! Para pemain Indonesia pun setali tiga uang. Tidak ada aksi yang bisa dibilang membahayakan gawang Ulsan. Bahkan kiper Ulsan seperti menikmati "gaji buta" saking jarangnya memegang bola.

Apa yang Salah dengan Indonesia?
Setelah penalti pemain Ulsan gagal, para pemain Indonesia tampaknya sangat percaya diri untuk memaksakan adu penalti untuk menentukan pemenang pertandingan tersebut. Tidak ada gairah sama sekali untuk membuat sebuah serangan dan mencoba memenangkan pertandingan di waktu normal maupun pada babak perpanjangan waktu. Persoalan motivasi kah?

Tampaknya demikian. Para pemain Indonesia terlihat sangat tidak termotivasi untuk sekedar menyerang pertahanan lawan. Jangankan mencoba mencetak gol, menyerang pun tampak sangat enggan. Tidak ada motivasi untuk menjadi pencetak gol dalam pertandingan tersebut. Persoalan motivasi ini pula yang membuat para pemain Indonesia mencoba menahan bola berlama-lama dan akhirnya memberikan kepada Markus Horison sebelum dia membuang bola ke depan.

Barangkali itu memang strategi yang di buat oleh Charis Yulianto dkk. yakni memaksakan adu penalti. Tapi bukankah itu adalah strategi yang sangat riskan? mengingat adu penalti lebih banyak ditentukan oleh faktor untung-untungan? Tidak ada satupun kiper atau tim di dunia ini yang mengatakan dirinya sangat ahli dalam duel adu penalti. Memang banyak kiper top Eropa mencoba mengantisipasi duel adu penalti ini dengan mempelajari statistik para penendang penalti lawan. Artinya mencermati seberapa sering pemain A menendang ke kanan, atau pemain B menendang ke kiri untuk selanjutnya di gunakan saat adu penalti. Tapi tetap saja, postur tubuh yang "hanya" 190-an cm tidak cukup menutup ruang gawang yang lebarnya lebih 7 meter!

Saya pikir, persoalan motivasi untuk menyelesaikan pertandingan dengan lebih cepat ini yang harus segera dibenahi. Karena motivasi tidak hanya mempengaruhi durasi pertandingan (yang terlihat lebih lama), tapi juga aksi yang ditunjukkan di lapangan. Motivasi akan berpengaruh pada mental cepat puas! Dan ketika perasaan "sudah puas" ini sudah menjalar di pemain, maka akan sangat mungkin mereka meremehkan lawan. Kewaspadaan akan berkurang, kesalahan akan lebih sering terjadi, akhirnya, kekalahan akan menjumpai.

Memang mungkin awalnya sepele, lebih terfokus pada adu penalti. Tapi ingat, adu penalti masih berjarak waktu sangat lama ketika waktu baru menunjukkan menit ke 70 atau 80. Masih ada 20 menit waktu normal dan 30 menit perpanjangan waktu. Itu adalah waktu yang sangat lama untuk sepakbola, karena segala hal masih mungkin terjadi pada sisa waktu. Ingat Inter Milan, Juventus atau Manchester United yang sering mencetak gol ketika pertandingan sudah memasuki menit ke 90! Jika itu terjadi, maka hilanglah impian indah beradu penalti di akhir laga. Para pemain Indonesia tampaknya butuh tambah darah supaya lebih bisa termotivasi.

Memang kalau hanya menyalahkan aspek motivasi tampaknya tidak adil. Para pemain mungkin juga sudah didera kelelahan yang teramat sangat sehingga memilih untuk menahan diri demi menghemat tenaga. Tapi, bukankah mereka adalah pemain profesional, yang dibayar karena keahlian mereka bermain sepakbola? Bukankah mereka seharusnya sudah mempersiapkan mental dan fisik (dan tentu saja teknik) karena itulah yang dihargai dari diri seorang pemain sepakbola?

Ah, entahlah! Semoga saja mereka akan lebih termotivasi untuk menjadi juara pada turnamen ini. Semoga saja mereka belum lupa indahnya kemenangan dan menjadi juara. Semoga juga mereka bisa paham bahwa masyarakat Indonesia saat ini sedang butuh sedikit hiburan di tengah kesulitan hidup yang melanda. Semoga mereka paham bahwa dengan mereka bermain baik, bersemangat, disiplin dan pantang menyerah akan sedikit memberi hiburan kepada masyarakat Indonesia. Menang kalah adalah sebuah kewajaran. Tapi ketika menang dan didahului oleh proses yang menghibur akan jauh membanggakan. Meski kalah, tapi jika pemain menunjukkan semangat yang patriotis, pantang menyerang, dan selalu ingin menang, maka masyarakat juga akan sedikit terhibur. Mereka pun akan keluar dengan kepala tegak!

Masih ingat Piala Kemerdekaan bulan Agustus lalu, kan? Memalukan bukan? Semoga sepakbola Indonesia bisa lebih menghibur!
Guntur Utomo

Tuesday, November 4, 2008

Menangnya Sebuah Ketangguhan Mental


Akhirnya Formula 1 mempunyai juara baru. Banyak memang yang sudah menduga kalau Lewis Hamilton akan menjadi jawara dalam balapan jet darat ini. Setelah tahun lalu gagal dalam seri terakhir, kini Hamilton membuktikan bahwa dia pantas menduduki predikat Juara.

Secara teknis memang tidak ada yang meragukan kemampuan Hamilton dalam membalap. Juara 5 seri adalah bukti nyata bahwa dia adalah salah satu calon penguasa F1. Didukung oleh mesin yang tangguh dan tim yang solid, Hamilton berhasil mencatatkan dirinya sebagai pembalap termuda F1.

Tapi patut dicermati persaingan mental yang terjadi dalam balapan mobil paling mewah sejagad ini. Bahkan sampai tikungan terakhir, gelar juara dunia belum juga bisa dipastikan. Lewat balapan yang dramatis, akhirnya Felipe Massa harus gigit jari dan gelar juara pun jatuh pada pembalap berusia 23 tahun asal tanah Inggris.

Yang patut diperhatikan juga adalah bagaimana Hamilton mengontrol emosinya. Setelah tahun lalu gagal total karena emosional yang menyebabkan dia salah memencet salah satu tombol di mobilnya, Hamilton telah belajar banyak. Pada seri terakhir di Brasil, tampak bahwa Hamilton jauh lebih hati-hati. Sangat jelas bahwa pengalaman buruk tahun lalu tidak ingin dia ulangi. Sejak start, Hamilton tampak sangat berhati-hati dalam mengendarai mobilnya. Tidak tampak sama sekali agresivitas yang sering dia tampilkan dalam beberapa seri sebelumnya. Ternyata hasilnya jitu, gelar juara berhasil dia bawa pulang ke tanah Britania.

Coping adalah reaksi yang diambil untuk mengurangi tekanan atau stress yang dirasakan seseorang. Dengan balapan yang sedemikian ketat, memang sangat wajar seorang pembalap selalu berada dalam tekanan. Tekanan yang dirasakan oleh Hamilton jelas berlipat ganda lantaran gelar juara sudah di depan mata. Ditambah dengan kegagalan tahun kemarin, Hamilton pasti merasakan beban yang teramat besar. Belum lagi dengan ancaman kerusakan mesin dan cuaca yang tidak menentu yang sangat mungkin menggagalkan ambisinya menjadi juara dunia termuda.

Berbagai macam tekanan tersebut tentu saja sangat mempengaruhi kondisi emosi Hamilton menjelang balapan terakhir di Sao Paolo hari Minggu silam. Trauma ditambah dengan tekanan dan ketakutan-ketakutan yang ada di depan mata tentu saja bukan barang mudah untuk di hadapi. Apalagi untuk seorang pemuda seusia Hamilton yang baru saja meninggalkan masa remajanya. Tekanan tersebut pastilah memunculkan kecemasan yang luar biasa.

Tahun lalu, dengan kondisi yang hampir serupa, Hamilton mencoba mengelola tekanan-tekanan dalam dirinya dengan perilaku yang agresif. Barangkali dalam diri Hamilton waktu itu tidak ada kata lain kecuali menjadi juara dalam seri tersebut. Padahal kenyataannya, dia hanya butuh finish diurutan 6 untuk menjadi juara dunia tahun lalu. Emosi yang meledak-ledak, tidak mau kalah dan kurang perhitungan adalah ciri yang sangat khas bagi remaja seusianya. Dan akhirnya, cara dia menghadapi tekanan ternyata membawa bencana. Hamilton gagal menjadi juara setelah kalah 1 poin dari Kimi Raikonnen.

Tahun ini, Hamilton sudah tampak berbeda. Memang masih tampak perilaku yang seperti tahun lalu, yakni pada saat Seri Jepang. Tapi ternyata semua itu tidak terjadi pada seri terakhir di Brasil. Hamilton telah berhasil menunjukkan perilaku yang lebih tepat dalam bereaksi terhadap tekanan. Dia menjadi lebih hati-hati dan tidak mudah terpancing amarahnya.

Saya rasa, peran tim sangat besar dalam perubahan sikap Hamilton dalam seri terakhir tersebut. Menurut berita di media massa, Tim Mc Claren berulangkali menginstruksikan Hamilton untuk hanya memikirkan lomba dan tidak sekali-kali memikirkan gelar juara dunia. Perintah ini adalah sebuah bentuk pengalihan tekanan. Dengan memikirkan lomba, tekanan yang dihadapi tentu saja jauh lebih kecil dibanding jika pikiran dia dipenuhi dengan gelar juara.

Dengan mengalihkan perhatian ini, seri Brasil tampak menjadi sebuah balapan rutin seperti halnya balapan-balapan lain yang diikutinya tanpa harus terbebani gelar juara. Konsep pengalihan perhatian ini juga memberi ruang bagi Hamilton untuk memilih perilaku yang lebih sesuai, yakni berhati-hati. Ternyata memang semua berjalan dengan lancar. Memang sedikit ada insiden ketika Sebastian Vettel berhasil menyusulnya, tapi scenario dan ketangguhan mental Hamilton di seri terakhir ternyata telah mengantarkannya menjadi Juara Dunia F1 termuda sepanjang sejarah.

Guntur Utomo

Sunday, April 27, 2008

Cemas Bikin Lemas: Menghadapi Kecemasan dengan Lebih Berani!


Sebelum menghadapi sebuah pertandingan, ada yang umum terjadi dalam diri atlet. Kondisi psikologis atlet biasanya menjadi lebih tinggi. Hal ini terpicu oleh situasi dan keadaan yang akan di hadapi. Ditambah dengan embel-embel sebuah pertandingan penting yang menentukan. Dari kondisi tersebut muncul reaksi-reaksi fisiologis dalam tubuh seorang atlet. Keringat mengucur deras, tangan dan kaki basah oleh keringat, nafas terengah-engah, gemetar, kepala pusing, mual hingga muntah-muntah. Itu semua adalah respon fisik atas kondisi mental yang meningkat.

Secara umum, atlet tersebut merasa cemas.Kecemasan adalah peristiwa yang umum dihadapi oleh siapa saja saat akan menghadapi sesuatu yang penting. Termasuk juga para atlet. Munculnya rasa cemas, biasanya di dahului oleh gambaran mental atas peristiwa-peristiwa yang akan dihadapi. Dengan kata lain, ada proses pembayangan yang dilakukan oleh seorang atlet yang mendahului munculnya rasa cemas. Dari gambaran tersebut kemudian menyatu dengan persepsi-persepsi, gambaran-gambaran, harapan-harapan atas diri sendiri.

Secara sederhana kecemasan atau dalam bahasa psikologi biasa disebut dengan anxiety di definisikan sebagai aktivasi dan peningkatan kondisi emosi (Bird, 1986). Peningkatan dan aktivasi ini didahului oleh sebuah kekhawatiran dan kegelisahan atas apa yang akan terjadi. Dalam konteks pertandingan, tentu saja berkaitan dengan lawan dan harapan-harapan baik yang berasal dari diri sendiri maupun orang lain. Ada dua jenis peningkatan dan aktivasi kondisi psikologis ini. Selain anxiety, ada juga yang disebut dengan arousal. Keduanya merupakan hasil dari peningkatan kondisi mental seseorang. Bedanya berada pada tingkatan aktivasi dan jenis emosi yang muncul.

Arousal
bersifat lebih positif, artinya arousal memberi energi pada seseorang untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Arousal memberi tambahan tenaga yang mendasari sebuah perilaku. Keinginan untuk menang, menjatuhkan lawan dengan segera (dalam olahraga beladiri dan tinju), tampil lebih trengginasarousal ini. Sedangkan cemas adalah kombinasi antara intensitas perilaku dan arah dari emosi yang lebih bersifat negatif (Bird, 1986). Perilaku yang sering muncul seiring dengan munculnya rasa cemas ini adalah ketakutan akan kalah, kekhawatiran atas performa diri dan prestasi lawan dan sebagainya. Dalam bahasa lain, para ahli sering mengganti istilah anxiety menjadi stress. Secara umum, kedua istilah ini digunakan secara bergantian dengan merujuk pada definisi yang sama. Kecemasan adalah hasil keraguan atas kemampuan untuk menangani situasi yang menyebabkan stress (Hardy, 1996 dalam Humara).

Pahlevi (1991), mendefinisikan kecemasan sebagai suatu kecenderungan untuk mempersepsikan situasi sebagai ancaman dan akan mempengaruhi tingkah laku. Handoyo (1980), mendefinisikan kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang dialami olah seseorang, dimana ia merasa tegang tanpa sebab. Hal yang nyata dan keadaan ini memberikan pengaruh yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan perubahan-perubahan pada tubuhnya baik secara somatis maupun psikologis. Teori awal yang menjelaskan tentang anxiety ini adalah dan sebagainya adalah hasil yang muncul dari Hipotesis U-terbaik. Dalam teori ini anxiety dikatakan memberi pengaruh yang besar terhadap penampilan. Semakin tinggi tingkat kecemasan, maka penampilan akan semakin optimal. Namun, jika berubah menjadi terlalu tinggi, maka penampilan akan semakin turun (seperti huruf U yang dibalik).

Anxiety sendiri dibagi menjadi beberapa jenis. Yang pertama adalah state anxiety atau biasa disebut sebagai A-state. A-state ini adalah kondisi cemas berdasarkan situasi dan peristiwa yang dihadapi. Artinya situasi dan kondisi lingkunganlah yang menyebabkan tinggi rendahnya kecemasan yang dihadapi. Sebagai contoh, seorang atlet akan merasa sangat tegang dalam sebuah perebutan gelar juara dunia. Sebaliknya, tidak begitu tegang saat menjalani pertandingan dalam kejuaraan nasional.


Yang kedua adalah trait anxiety atau biasa disebut dengan A-trait. Trait anxiety adalah level kecemasan yang secara alamiah dibawa oleh seseorang. Dalam A-trait ini tingkat kecemasan akan berbeda-beda dalam setiap individu berdasarkan kondisi kepribadian dasar yang dimilikinya. Sebagai contoh, pemain A akan merasa lebih rileks dalam menghadapi pertandingan di Pekan Olahraga Nasional, tapi untuk atlet lain dia justru merasa sangat tertekan dan sangat cemas meskipun bertanding dalam even yang sama. Hal ini disebabkan oleh persepsi dasar seorang individu dalam memandang sumber kecemasan.

Dan yang ketiga adalah Competitive anxiety. Competitive anxiety ini adalah kecemasan yang berhubungan dengan situasi kompetisi atau sebuah pertandingan. Competitive anxiety ini sendiri dibagi menjadi competitive trait anxiety dan competitive state anxiety.


Anxiety
dan Penampilan
Secara sederhana, anxiety memberi pengaruh yang cukup besar terhadap penampilan seorang atlet. Menurut teori hipotesis U-terbalik maka penampilan seorang atlet akan semakin bagus saat tingkat kecemasan mulai meningkat. Namun, saat tingkat kecemasan mulai naik dan terus naik, kecenderungan penampilan akan menurun.

Namun, tingkat kecemasan dan stress antara satu orang dengan orang lain berbeda. Ada beberapa hal yang membedakan tingkat kecemasan atlet. Yang pertama adalah pengalaman. Atlet yang lebih berpengalaman terbukti memiliki level kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan atlet yang baru saja masih amatir. Yang kedua adalah situasi dan kondisi kompetisi. Kompetisi yang bersifat lebih tinggi tingkatnya cenderung menyebabkan meningkatnya tingkat kecemasan bagi seseorang. Sebagai contoh level kejuaraan dunia ternyata lebih stressful dibanding dengan kejurnas. Selain level kompetisi, fase kompetisi itu sendiri juga memberi pengaruh yang cukup besar. Dalam kompetisi sepakbola yang berformat liga, situasi yang cenderung membuat cemas adalah saat-saat kompetisi mendekati akhir dengan nilai yang tidak terpaut jauh sehingga masih ada kemungkinan mengejar atau dikejar.

Level kecemasan juga dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan diri seorang pemain. Pemain yang secara alamiah mempunyai tingkat kepercayaan diri tinggi memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan atlet yang rasa percaya dirinya rendah.

Jenis olahraga juga memberi sumbangan terhadap tingkat kecemasan. Olahraga yang bersifat individual menciptakan tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan cabang olahraga tim (Humara, 1999). Hal ini wajar karena perasaan mempunyai teman akan membuat lebih tenang dan focus tidak terpusat pada dirinya.

Hal terakhir yang mempengaruhi tingkat kecemasan adalah jenis kelamin. Menurut beberapa penelitian, atlet perempuan lebih cenderung mempunyai tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan atlet laki-laki (Thuot, Kavouras, & Kenefick., 1998 dalam humara).

Metode Penanganan
Pengaruh terbesar kecemasan terhadap performance ada pada gerak motorik seorang atlet. Dengan tingkat kecemasan yang melebihi ambang batas, respon-respon tubuh yang muncul relative merugikan untuk sebuah penampilan. Tubuh yang gemetar membuat gerakan-gerakan menjadi terbatas, belum lagi dengan kekakuan otot yang mengiringi atlet yang cemas. Hasilnya, penampilan tidak akan maksimal. Kesalahan-kesalahan passing, atau gerakan yang tidak terkontrol akan muncul tanpa sadar.

Untuk itu, atlet perlu disiapkan untuk menangani kecemasannya dengan baik. Pelatih merupakan ujung tombak agar atletnya tidak mudah stress dan cemas. Program latihan harus diatur sedemikian rupa sehingga membiasakan para pemain berada dalam tekanan. Tentu saja bukan tekanan dari pelatih, tapi oleh situasi-situasi pertandingan tersebut.

Dalam teori kepelatihan sepakbola modern, pola-pola latihan yang melibatkan tekanan mulai diperkenalkan. Van Lingen (1989) menyatakan bahwa unsur tekanan akan membiasakan para pemain berada dalam situasi pertandingan sesungguhnya. Contoh mudah adalah dengan menghadirkan “lawan” dalam setiap sesi latihan. Latihan passing tidak dianjurkan lagi hanya dengan dua orang yang berhadap-hadapan tanpa kehadiran musuh disana. Begitu pula latihan shooting, driblling dan sebagainya.

Pola latihan yang tepat akan membuat para pemain terbiasa dengan tekanan. Hasilnya akan terlihat pada kompetisi. Pemain tidak lagi canggung untuk menghadapi musuh, karena memang sudah relative terbiasa.Selain itu, kompetisi berjasa untuk mengasah keterampilan emosional pemain. Dengan digelarnya kompetisi rutin, maka para pemain akan lebih sering bertemu dengan “lawan” sebenarnya. Jika sejak dini seorang atlet sudah sering dihadapkan untuk mengatasi tekanan lawan, maka kemampuan untuk mengalahkan imajinasi tentang lawannya akan semakin mudah. Menurut FIFA, seorang pemain usia dini seharusnya menghadapi minimal 30 pertandingan resmi dalam setahun.

Salah satu tujuannya tentu saja untuk membiasakan para pemain.Selain cara-cara yang berkaitan dengan proses latihan, perlu juga diberikan penanganan-penanganan yang bersifat pribadi. Ini adalah tugas dari seorang konsultan psikologi atau psikologi olahraga untuk membuat sebuah bentuk penanganan untuk mengurangi tingkat kecemasan atlet dan untuk menyiapkan mental atlet dalam menghadapi pertandingan penting. Salah satunya adalah dengan imagery training.

Para atlet diajak untuk berlatih “membayangkan” situasi-situasi yang akan dihadapi di lapangan. Tujuannya adalah memberi gambaran awal tentang situasi dan kondisi yang akan dihadapi. Banyak penelitian telah membuktikan efektifitas imagery traingin ini dalam mengurangi kecemasan pemain (Yukelson, 2007).

Secara individual, para atlet juga harus membekali dirinya dengan keterampilan mental untuk mengurangi kecemasan yang timbul. Keterampilan-keterampilan tersebut berkaitan dengan keyakinan-keyakinan pribadi. Salah satu contohnya adalah dengan self talk. Dengan self talk, para atlet diajak untuk mengurai kemampuannya sendiri dengan lebih objektif beserta solusi-solusi atas kekurangan-kekurangannya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para atlet dalam rangka mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh tekanan pertandingan, yakni:
  • Membuat perpektif yang benar; bertanding dalam sebuah cabang olahraga bukanlah masalah hidup atau mati. Dengan demikian, beban akan lebih ringan. Bukan berarti hal ini menganggap remeh sebuah pertandingan, namun sekedar meletakkan permasalahan dengan lebih objektif.

  • Jangan takut untuk membuat kesalahan. Perasaan takut membuat kesalahan memberi kontribusi yang cukup besar munculnya kecemasan. Dengan menganggap bahwa tidak semua orang bisa sukses setiap waktu bisa meringankan beban. Bahkan seorang Zinedine Zidane pun melakukan kesalahan yang fatal.
  • Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Dengan berlatih keras dan dengan metode yang benar, maka semua halangan bisa dengan mudah dikalahkan.
  • Berkonsentrasi tinggi. Selama pertandingan berlangsung, hilangkan persoalan-persoalan yang tidak berkaitan. Dengan berkonsentrasi pada apa yang sedang dihadapi, maka seorang pemain atau atlet akan lebih bisa berfikir rasional. Pikirkan juga apa yang sedang dilakukan, bukan semata pada hasil akhir.

Dengan pendekatan yang benar, maka kecemasan tidak akan menghalangi penampilan seorang atlet. Sebaliknya, dengan kecemasan yang relatif tinggi, sebenarnya atlet tersebut sedang bersemangat. Tinggal peran atlet, pelatih dan psikologi yang ditunggu untuk menciptakan pemain-pemain yang tidak mudah stress dan bisa dengan maksimal menggunakan skillnya untuk menciptakan prestasi.

Guntur Utomo. S.Psi


Reference

Bird, A. M. (1986). Psikologi and Sport Behavior. Times Mirror/Mosby. St Louis. USA

Humara, M. (1999). The Relationship Between Anxiety and Performance:

A Cognitive-Behavioral Perspective. www.athleticinsight.com/vol.2/issue.2/1999. retrieved 2008

Yukelson, D.,Ph.d. (---).Teaching Athletes Visualization and Mental Imagery Skills. Unknown.

Youth First Magazine. (---).Dealing with Over Arousal; Three Techniques to Reduce Over Arousal. Volume 1 series 4. Unknown.